Pindah :)

rekan-rekan pengunjung yang saya hormati *halah

blog Dia, Generasi ini, dan Indonesia akan pindah ke alamat baru :

vionawijaya.wordpress.com

jadi di blog ini tidak akan ada lagi tulisan baru :) kalau teman2 tertarik untuk mengikuti ide-ide si ona ini tentang Dia, generasi ini dan Indonesia, *yang kadang suka tak penting sebetulnya :p*, dengan senang hati akan disambut di blog yang baru :)

terima kasih untuk perhatian rekan-rekan. Mari terus bergerak..

Salam,

 

Viona Wijaya

Suatu hari aku akan melihat bangsa dan negeri ini berdiri dengan kuat.
Aku akan menjadi saksi kebangkitannya.
Aku akan menjadi bagian dari kebangkitannya.
Aku akan melihat bahwa sungguh hatiNya ada di bangsa ini, di negeri ini, di Indonesia

Monster-monster Kecil

“Anak-anak zaman sekarang mah beda ya…” ujar seorang teman sambil menggelengkan kepala. Teman saya ini pemilik sebuah butik yang cukup terkenal di kalangan ibu-ibu muda dari kalangan berduit. Komentarnya tadi muncul setelah menyaksikan tingkah anak-anak yang dibawa ibunya belanja ke butik. “Mereka tuh kaya monster, Na..” keluhnya lagi.

Jadi ceritanya begini. Ketika para ibu berbelanja, si anak biasanya ‘dititipkan’ pada teman saya. Mimpi-mimpi buruk pun terjadi. Kaca butiknya pernah dipecahkan, ikan-ikan di akuariumnya diganggu sampai mati. Membuat keributan di butik? Selalu. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah kebiasaan beberapa anak yang kali ini diungkapkan para Ibu kepada teman saya. Ibu yang pertama adalah pemilik sebuah salon yang cukup terkenal di Kota Bandung. Anak perempuannya yang masih berumur di bawah sepuluh tahun selalu minta creambath 3-4 kali dalam seminggu. Ibu yang lain menceritakan kebiasaan anaknya merengek minta dibawa ke mal minimal satu minggu sekali, dan harus sehari penuh! Kalau tidak dibawa, dia akan marah besar.

Kejadian-kejadian di atas hanyalah sebagian kecil dari kejadian-kejadian aneh bin ajaib yang dilakukan anak-anak zaman sekarang. Biasanya, anak-anak dari keluarga menengah ke ataslah yang cenderung bersikap seperti itu. Tentu tidak semua, tapi cukup banyak. Kemapanan ekonomi orangtuanya menjadi alasan mengapa anak-anak tersebut mudah sekali mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan, termasuk barang mewah. Sebut saja mainan mereka : PSP dan Nintendo, satu anak punya satu, supaya tidak rebutan. Anak-anak SD sudah menenteng telepon genggam Blackberry ke sekolah (padahal cuma dipakai untuk telepon mama atau papa, minta dijemput).

Kenakalan, sifat manja, atau kebiasaan menuntut sesuatu memang merupakan sifat anak-anak, tapi bukan berarti boleh dibiarkan begitu saja. Adalah peran orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang benar dan mendorong proses pendewasaan bagi anak-anaknya. Sayangnya banyak orangtua bereaksi keliru. Ibu-ibu dalam kisah di atas biasanya berkata begini ketika anaknya membuat ulah di butik kawan saya itu, “Aduh, maaf ya, anak saya memang nakal. Biarkan saja lah dia, nanti saya yang tanggung kerugiannya.” Alhasil muncullah monster-monster kecil yang egois, tidak punya etika, dan tidak mau tahu perasaan dan kepentingan orang lain.

Karena tidak pernah ditegur  dan selalu dipenuhi keinginannya (sekalipun keinginannya itu tidak baik atau tidak berguna), maka anak-anak akan tumbuh sebagai pribadi-pribadi  yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Selain itu membiasakan mereka hidup dengan gaya hidup mewah tanpa secara berimbang mengajarkan mengenai kerja keras, simpati, dan empati terhadap orang lain akan menciptakan pribadi-pribadi berkarakter malas, sombong, dan acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya. Padahal, anak adalah aset terbesar suatu bangsa. Mereka inilah yang nantinya akan mewarisi negeri. Bisa dibayangkan andai anak-anak ini di kemudian hari menjadi pejabat negeri ini. Bukan mustahil merekalah yang jadi direktur perusahaan yang melakukan pembalakan hutan demi mendapatkan uang semata. Mungkin juga mereka menjadi anggota Dewan yang kita sebut tidak peka terhadap penderitaan masyarakat karena terus menuntut fasilitas mewah dan hobi plesir sana-sini di tengah keadaan bangsa yang masih carut marut.

Pendidikan dalam keluarga adalah pembentuk utama kepribadian seorang anak yang akan terus ia bawa hingga dewasa. Pola pengasuhan yang benar adalah kuncinya. Sedari kecil, sebaiknya anak diajar secara berimbang. Jangan manjakan dengan materi saja, sebaliknya anak diajar untuk memberi pada orang lain yang tak mampu. Ini akan mengajarkannya untuk memiliki kepekaan akan kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Tempat bermain anak juga jangan hanya berkisar pada mal dengan segala kemewahannya, tapi kenalkanlah dia pada alam. Di tengah-tengah kemegahan alam sebagai mahakarya Sang Pencipta, ia bisa diajarkan bahwa dirinya tidak boleh sombong. Contoh dari hal ini adalah seperti yang dilakukan Samuel Tumanggor pada anak sulungnya Alir Nira. Di sisi lain, dengan mengajarkannya mencintai alam, kita sedang mengajarinya untuk mencintai negeri ini juga. Dengan demikian, kita tidak lagi menciptakan monster-monster kecil, tetapi pahlawan-pahlawan kecil yang nantinya akan menjadi pahlawan besar bagi nusa dan bangsa.

 

- Tulisan ketiga -

hasil perbaikan setelah diorat-oret (pastinya!_

tak lupa mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang masih Dia percayakan untuk menajamkan hidup saya, terima kasih bg Sam, terima kasih ko Iyung, terima kasih teman-teman : Bg Binhot, Ka Tina, Rony, Grace, Feni, dan Beber :)

“Atas Berkat Rahmat Allah” : Tolok Ukur Kiprah Pemerintah

“Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa..” Tentu penggalan kalimat ini tidak lagi asing di telinga kita. Ya, ini penggalan dari alinea ke-3 pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Cukup dikenal, setidaknya oleh orang-orang yang waktu Sekolah Dasar serius mengikuti upacara bendera. Amat dalam maknanya bagi orang-orang yang mencoba menggali nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dari pembukaan UUD 1945. Dan sangat luar biasa pesan yang dibawanya bagi kita semua, rakyat Indonesia.

Kata “berkat” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti karunia Tuhan yang membawa kebaikan di hidup manusia, sedangkan kata “rahmat” berarti belas kasih, atau karunia Allah. Kata “karunia” sendiri rupanya menyandang makna kasih, atau pemberian dari yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah. Jadi, kalau diucap ulang dengan menggunakan pengertian-pengertian di atas, bunyi awal alinea ke-3 UUD akan menjadi seperti ini : “Atas dasar kasih, belas kasihan, pemberian dari Allah yang Mahakuasa yang membawa kebaikan bagi hidup kita (rakyat Indonesia)…”. Agak panjang, tapi maknanya menjadi jauh lebih jelas dari sekedar kata-kata indah yang mudah dihafalkan.

Alinea ke-3 UUD 1945 berbicara mengenai salah satu alasan mengapa bangsa ini menyatakan kemerdekaannya. Jika menggunakan awal alinea hasil bentuk-ulang saya, maka bisa disimpulkan bahwa  kemerdekaan Indonesia didasari oleh kasih sang Pencipta, sebuah pemberian dari-Nya yang ditujukan untuk membawa kebaikan bagi kehidupan manusia. Dicantumkannya pernyataan ini di dalam pembukaan UUD 1945 menunjukkan bahwa para bapak bangsa kita paham betul bahwa bangsa ini berdiri dengan adanya campur tangan Ilahi di dalamnya. Meskipun sulit dijelaskan seperti apa campur tangan Ilahi itu, hati mereka  mengamini hal ini, bahwa Allah memegang peranan dalam pembentukan bangsa ini. Allah adalah Bapak Bangsa kita!

Menjiwai pesan yang dibawa dalam alinea ke-3 UUD 1945, pemerintah negeri ini harusnya mulai menjadikannya sebagai tolok ukur dalam melakukan segala sesuatu. Ketika bertugas, pemerintah – pejabat negara – harus sadar betul bahwa bangsa ini adalah “berkat rahmat Allah yang mahaKuasa”. Artinya, jangan coba-coba untuk berlaku curang, tidak adil atau tidak benar terhadap rakyat yang adalah pemberian sang Pencipta. Sebagai contoh, ketika godaan untuk melakukan korupsi mulai mengintip di dalam hati, pernyataan ini menjadi senjata ampuh untuk menghancurkan godaan. “Bangsa ini terwujud berkat rahmat Tuhan! Mana berani saya korupsi!” kita bisa berujar pada si penggoda.

Di sisi lain, para pejabat negara juga seharusnya tidak lagi berani malas-malasan dengan kepercayaan yang dimilikinya, karena yang empunya bangsa ini bukan cuma rakyat menurut ajaran demokrasi tapi Allah sendiri. Amanat yang diembannya bukan sekedar amanat rakyat, tapi juga amanat Allah sendiri. Ini berarti pertanggungjawaban pemerintah bukan pada rakyat saja tapi juga kepada Allah. Demikian pula yang menilai kinerja pemerintah adalah rakyat dan Allah.

Pemerintah juga harus terus ingat bahwa bangsa ini diberikan oleh-Nya untuk kebaikan umat manusia, yaitu dirinya sendiri, rakyat Indonesia, dan bahkan bangsa-bangsa – jadi bukan untuk dirinya sendiri saja! Sikap egois, tidak peka, tidak bermoral, dan tidak bertanggungjawab harus dibuang jauh-jauh. Sebaliknya, biarlah makna dari alinea ke-3 UUD 1945 ini mendorong pemerintah untuk bekerja dengan penuh ucapan syukur, kemurnian kesungguhan hati. Biarlah pemerintah berkata, mantap, “Atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa, saya telah dipercaya dan saya akan membangun negeri ini!”

-tulisan kedua-

hasil perbaikan setelah diorat-oret (agi) :) Judul awalnya adalah “Pemerintah dan Allah”, judul yang muncul setelah mentok -  tak tau mau beri tulisan ini judul apa. Benar saja, judulnya dibilang ‘kurang-sip’ (saya anggap bentuk halus dari : jelek) eheheh… :) Judul yang dipakai sekarang adalah saran dari bang Sam :)

Teriring rasa terima kasih pada orang-orang yang masih Dia percayakan untuk menajamkan hidup saya, terima kasih bg Sam, terima kasih ko Iyung, terima kasih teman-teman : Bg Binhot, Ka Tina, Rony, Grace, Feni, dan Beber :)

kunjungi web : http://hatidanlogika.wordpress.com/ untuk melihat tulisan-tulisan Ka Tina bendahara kelas kami heheeh :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.