Mendiskriminasi Diri

Pembicaraan ini mengambil tempat di toko. Saya sedang jadi tukang tulis bon toko ketika si sales yang umurnya sekitar 40 atau 50 tahunan ini menghampiri saya. Kami bincang-bincang sebentar, basa-basi pembuka. Dia menanyakan saya kuliah di mana, saya jawab di UNPAD fakultas hukum. dia tampak terkejut, lalu mengangguk-ngangguk dengan dahi masih mengerut (kenapa semua orang harus mengernyitkan dahinya ketika mereka dengar tempat saya kuliah?).

Kemudian dia tanya saya mau jadi apa. Saya bilang apapun selain notaris. Dia tergelak, tertawa lepas, seraya bertanya, “Kenapa?”
Saya bilang saya tidak akan tahan jadi notaris yang kerjaannya cuma diam di kantor, tandatangan, bikin surat dengan format yang sudah ada, lalu dapat uang. Saya tipe orang yang tidak tahan menjalani profesi yang cenderung pasif tersebut.

Mendengar jawaban itu, dia tampak tertarik, “Kamu mau jadi apa? Pengacara?”

“Yaa, kalau boleh coba-coba dulu. Saya punya tujuan sih, tapi sebelum sampai ke tujuan itu saya berharap bisa coba berbagai profesi dulu…”

Saya hafal reaksi macam ini. Hidung yang seolah-olah jadi mancung seketika, senyum merendahkan, dan tatapan mata menatap ke bawah seolah-olah dia yang punyanya segala pengetahuan di dunia ini. dia bukan orang pertama yang bereaksi seperti ini. Saya tidak bermaksud menyinggung ras, tapi hampir semua orang yang bereaksi seperti ini adalah mereka yang merupakan warga peranakan.

Yang berikutnya terjadi pun sudah berkali-kali saya alami. Dia mulai dengan kalimat, “Begini na.. kamu masih muda, masih idealis. Kamu tidak tahu kenyataan dalam dunia bagaimana,” dia merendahkan suaranya, “Punya cita-cita besar boleh, tapi kamu harus ingat, kita ini minoritas.. susah lah untuk bisa bertahan di dunia yang kamu sebutkan tadi..”

Saya biarkan dia bicara selama yang dia mau. Tapi ucapan-ucapan itu cukup sekedar lewat saja dari telinga kiri ke telinga kanan. Saya cuma ingat dia lalu memberikan alternatif-alternatif JALAN yang lebih ‘aman’ yang dia tau (Terima kasih, saya TIDAK BUTUH jalan lain selain yang sudah Dia tetapkan untuk saya), dia lalu mulai mengumbar-ngumbar segala kebusukan di dunia hukum dan pemerintahan.
“Mahasiswa tuh memang kadang berpikir sempit, Kamu tidak tau semua itu kan?” tanya dia sambil senyam-senyum puas.

Saya pasang senyum lebih puas, “Saya tau. Saya tau PERSIS seperti apa dunia itu. Saya tau PERSIS segelap dan sekotor apa dunia itu. Terima kasih buat nasihatnya, tapi saya tidak tertarik untuk beralih haluan.”

Lalu dia mulai bawa-bawa agama. Dia kutip beberapa ayat alkitab yang digunakannya untuk melegalkan keeegoisannya untuk hidup bagi diri sendiri. Hey bung, anda pakai argumen yang salah untuk bicara dengan saya. Tapi saya cuma diam. Hati saya kesal, marah sama orang yang satu ini. Kalau saya buka mulut saya waktu itu, entah apa yang keluar. Jadi saya diam.

——————–
Saya bingung. Apa salahnya menjadi seorang peranakan di negeri Indonesia? Mengapa mereka selalu bilang bahwa bagi seorang keturunan tionghoa untuk berkarya di negeri ini pasti dipersulit (kecuali di bidang bisnis?? Plis deh)

saya bingung, kenapa orang harus mengernyitkan dahinya begitu dengar saya sekolah di univeritas negeri? fakutas HUKUM LAGI!

Apa yang salah?

Kenapa selalu bilang “kita ini minoritas?”
Kenapa selalu bilang, “yaa praktek diskriminasi kan masi ada”

Saudara punya buktinya? atau itu cerita-cerita lama yang terus diceritakan turun temurun dari era soeharto? Saya akui republik ini memang pernah bersikap diskriminatif. Saya akui beberapa kali republik ini melakukan pembiaran terhadap tindakan-tindakan diskriminatif. Terus kenapa? Apa itu lantas harus terus kita ingat-ingat, kita jadikan hukum tidak tertulis, dan kita menolak harapan bahwa ada perubahan di republik ini?

Kalaupun benar ada, saya akan bilang hal yang sama, terus kenapa? Apa lantas saya harus mundur dari panggilan saya, memelihara luka dari generasi ke generasi tanpa mengusahakan sebuah perubahan?

Kita tidak didiskriminasikan. Kita MENDISKRIMINASIKAN DIRI. Kalau pun benar ada tindakan diskriminatif, saya rasa hanya orang-orang yang mendiskriminasikan dirinya sendiri yang akan ‘iya-iya’ saja dengan keadaan itu dan kemudian mundur sambil menyalahkan sistem.

Lihat Hok Gie, tokoh tahun 60-an. Kurang diskriminatif apa era itu? Hok Gie pernah dilempari kertas ketika dia jalan pulang kerumah. Tulisannya : CINA = PKI, MATI LO!
Apa yang dilakukan hok gie? Dia berhenti melakukan sesuatu buat Indonesia? Tidak!! Saya bangga ada seseorang seperti Soe Hok Gie, Yap Thiam Hien, Kwik Kian Gie, Bu Retnowulan, dan orang-orang keturunan tionghoa lainnya yang mewarnai bangsa ini. Mereka bisa, lantas apa hak saudara mengatakan saya tidak akan bisa?

Pembicaraan macam ini terjadi berkali-kali. Karena itu akhirnya saya tulis notes ini, menyadari bahwa penyakit ‘mendiskriminasikan diri’ ini tampaknya sudah mewabah.Saya tidak menggeneralisasi. Banyak juga warga peranakan yang mencintai dan mengasihi bangsa ini. Hanya kebetulan saja hari ini saya lagi pengen mengeluarkan uneg-uneg.

Saya adalah manusia yang memiiki hak. Saya tidak mau mundur hanya karena sistem dan hukum tak tertulis yang tidak jelas asa muasal, manfaat dan tujuannya.

Saya menolak untuk menyebut diri saya minoritas,
Saya menolak untuk mendiskriminasikan diri sendiri, dan menjadikannya alasan untuk hidup egois bagi diri sendiri.

Saya memilih untuk mengukir nama bangsa ini di hati saya
Saya memilih untuk melawan segala macam arus ketidakbenaran di negeri ini
Saya bukan seorang idealis buta yang tidak punya strategi untuk bergerak
Saya punya tujuan yang jelas
Saya punya pengharapan yang tidak akan pernah pudar

Dan saya pikir negeri ini sedang membutuhkan itu. Orang-orang yang mau melangkah melewati garis hidup aman-nyaman-sejahtera-untuk-perut-sendiri.
Orang-orang ‘gila’ (kalau istilahnya prof Gde) yang mau beri pikirannya buat bangsa ini
Orang-orang yang mau berdiri di depan untuk melawan ketidakbenaran di negeri ini – bukan orang-orang yang cuma bisa mengeluarkan komentar sinis tanpa solusi buat negeri ini – penonton-penonton yang cuma berdiri di luar lapangan pertandingan.

Anda yang bilang begitu sama saya. Silakan saja terus mendiskriminasikan diri.
Tapi saya akan tunjukkan bahwa tembok ini akan kami jebol. Saya tak tau apa tembok itu sungguh ada atau tidak Bukannya tidak mungkin itu cuma tembok-tembok yang kita buat sendiri juga?

Saya tidak tau. Karena itu saya akan terus melangkah di jalan ini.

Nanti, kalau saya sudah tahu, saya ceritakan sama saudara ya….

Advertisement

2 comments so far

  1. joeniarto on

    hmm….saya kaget masih ada orang2 seperti anda. Saya terus berharap ada orang-orang “gila” yang terus berjuang untuk keselamatan yang sudah kita dapat dari Dia. Terima kasih untuk tulisan anda yang sangat menginspirasi :)

    GBU :)

  2. Alexander Rizki on

    BANGSA INI MEMBUTUHKAN ANDA!
    dialah mutiara-mutiara bangsa yang akan merubah bangsa ini kedepannya, dia tidak menyerah dengan keadaan, mencoba membuka mata dan melihat segalanya dengan jelas dan mencari solusi. Dia keluar dari zona aman, keluar dari mitos-mitos maya yang membelenggu diri, menerobos batas-batas semu yang seolah-olah menutupi diri untuk melangkah… Dia adalah Anda!
    Terus berjuang untuk bangsa saudaraku, janganlah luntur semangatmu dimakan waktu. bangsa ini harus berubah. kalo bukan kita siapa lagi.
    salam satu INDONESIA!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.