Monster-monster Kecil

“Anak-anak zaman sekarang mah beda ya…” ujar seorang teman sambil menggelengkan kepala. Teman saya ini pemilik sebuah butik yang cukup terkenal di kalangan ibu-ibu muda dari kalangan berduit. Komentarnya tadi muncul setelah menyaksikan tingkah anak-anak yang dibawa ibunya belanja ke butik. “Mereka tuh kaya monster, Na..” keluhnya lagi.

Jadi ceritanya begini. Ketika para ibu berbelanja, si anak biasanya ‘dititipkan’ pada teman saya. Mimpi-mimpi buruk pun terjadi. Kaca butiknya pernah dipecahkan, ikan-ikan di akuariumnya diganggu sampai mati. Membuat keributan di butik? Selalu. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah kebiasaan beberapa anak yang kali ini diungkapkan para Ibu kepada teman saya. Ibu yang pertama adalah pemilik sebuah salon yang cukup terkenal di Kota Bandung. Anak perempuannya yang masih berumur di bawah sepuluh tahun selalu minta creambath 3-4 kali dalam seminggu. Ibu yang lain menceritakan kebiasaan anaknya merengek minta dibawa ke mal minimal satu minggu sekali, dan harus sehari penuh! Kalau tidak dibawa, dia akan marah besar.

Kejadian-kejadian di atas hanyalah sebagian kecil dari kejadian-kejadian aneh bin ajaib yang dilakukan anak-anak zaman sekarang. Biasanya, anak-anak dari keluarga menengah ke ataslah yang cenderung bersikap seperti itu. Tentu tidak semua, tapi cukup banyak. Kemapanan ekonomi orangtuanya menjadi alasan mengapa anak-anak tersebut mudah sekali mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan, termasuk barang mewah. Sebut saja mainan mereka : PSP dan Nintendo, satu anak punya satu, supaya tidak rebutan. Anak-anak SD sudah menenteng telepon genggam Blackberry ke sekolah (padahal cuma dipakai untuk telepon mama atau papa, minta dijemput).

Kenakalan, sifat manja, atau kebiasaan menuntut sesuatu memang merupakan sifat anak-anak, tapi bukan berarti boleh dibiarkan begitu saja. Adalah peran orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang benar dan mendorong proses pendewasaan bagi anak-anaknya. Sayangnya banyak orangtua bereaksi keliru. Ibu-ibu dalam kisah di atas biasanya berkata begini ketika anaknya membuat ulah di butik kawan saya itu, “Aduh, maaf ya, anak saya memang nakal. Biarkan saja lah dia, nanti saya yang tanggung kerugiannya.” Alhasil muncullah monster-monster kecil yang egois, tidak punya etika, dan tidak mau tahu perasaan dan kepentingan orang lain.

Karena tidak pernah ditegur  dan selalu dipenuhi keinginannya (sekalipun keinginannya itu tidak baik atau tidak berguna), maka anak-anak akan tumbuh sebagai pribadi-pribadi  yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Selain itu membiasakan mereka hidup dengan gaya hidup mewah tanpa secara berimbang mengajarkan mengenai kerja keras, simpati, dan empati terhadap orang lain akan menciptakan pribadi-pribadi berkarakter malas, sombong, dan acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya. Padahal, anak adalah aset terbesar suatu bangsa. Mereka inilah yang nantinya akan mewarisi negeri. Bisa dibayangkan andai anak-anak ini di kemudian hari menjadi pejabat negeri ini. Bukan mustahil merekalah yang jadi direktur perusahaan yang melakukan pembalakan hutan demi mendapatkan uang semata. Mungkin juga mereka menjadi anggota Dewan yang kita sebut tidak peka terhadap penderitaan masyarakat karena terus menuntut fasilitas mewah dan hobi plesir sana-sini di tengah keadaan bangsa yang masih carut marut.

Pendidikan dalam keluarga adalah pembentuk utama kepribadian seorang anak yang akan terus ia bawa hingga dewasa. Pola pengasuhan yang benar adalah kuncinya. Sedari kecil, sebaiknya anak diajar secara berimbang. Jangan manjakan dengan materi saja, sebaliknya anak diajar untuk memberi pada orang lain yang tak mampu. Ini akan mengajarkannya untuk memiliki kepekaan akan kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Tempat bermain anak juga jangan hanya berkisar pada mal dengan segala kemewahannya, tapi kenalkanlah dia pada alam. Di tengah-tengah kemegahan alam sebagai mahakarya Sang Pencipta, ia bisa diajarkan bahwa dirinya tidak boleh sombong. Contoh dari hal ini adalah seperti yang dilakukan Samuel Tumanggor pada anak sulungnya Alir Nira. Di sisi lain, dengan mengajarkannya mencintai alam, kita sedang mengajarinya untuk mencintai negeri ini juga. Dengan demikian, kita tidak lagi menciptakan monster-monster kecil, tetapi pahlawan-pahlawan kecil yang nantinya akan menjadi pahlawan besar bagi nusa dan bangsa.

 

- Tulisan ketiga -

hasil perbaikan setelah diorat-oret (pastinya!_

tak lupa mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang masih Dia percayakan untuk menajamkan hidup saya, terima kasih bg Sam, terima kasih ko Iyung, terima kasih teman-teman : Bg Binhot, Ka Tina, Rony, Grace, Feni, dan Beber :)

Advertisement

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.